Pada 1993, ia adalah salah satu dari lima perempuan terkaya di Inggris. Perjuangannya sebagai aktivis pecinta lingkungan hidup, diakui banyak pihak. Dialah pemilik 2.100 toko The Body Shop yang tersebar di 54 negara.
Bisnis bisa dijalankan secara etis, dengan kepemimpinan moral, dan tetap menghasilkan keuntungan. Itulah keyakinan yang dipegang teguh Anita Roddick ketika membuka toko kecil di Brighton, Inggris, pada 1976. Kini, 2.100 toko yang tersebar di 54 negara adalah bukti dari buah keyakinan Anita, yang meninggal dunia 12 September 2007 dalam usia 64 tahun.
Anita Lucia Perilli lahir di Littlehampton, Inggris, pada 1942, dalam keluarga imigran Italia yang mengelola sebuah kafe. Bersama ketiga saudaranya, ia ikut membantu bisnis keluarga itu di akhir pekan. Orangtuanya bercerai ketika Anita masih kanak-kanak. Ibunya kemudian menikahi sepupu bekas suaminya, Henry, yang meninggal dunia karena TBC beberapa tahun kemudian.
Ketika Anita berusia 18 tahun, ibunya memberitahu bahwa Henry sesungguhnya adalah ayah biologisnya. Belakangan, Anita pun selalu merasa lebih dekat dengan Henry ketimbang pria yang sebelumnya dia sangka ayah kandungnya. “Itu membuat seakan-akan beban berat kesalahan telah terangkat dari pundak saya.”
Setelah lamarannya ke sekolah drama ditolak, Anita bekerja sebentar sebagai guru sekolah menengah dan kemudian mundur untuk pergi ke Tahiti, Australia, dan Afrika Selatan. Di tempat-tempat itulah ia menyerap kebiasaan-kebiasaan dan ide-ide yang kelak dia terapkan di The Body Shop.
“Ketika Anda tinggal selama enam bulan dengan satu kelompok yang melumuri tubuh mereka dengan krim kakao, dan tubuh mereka menjadi bagus sekali, atau jika Anda menyuci rambut Anda dengan lumpur, dan itu berhasil, maka Anda tentu akan menabrak segala macam konvensi, dari etika personal sampai ke perawatan tubuh,” katanya suatu kali.
Anita menikah dengan Gordon Roddick, seorang penyair Skotlandia, pada 1970, saat ia mengandung putri kedua mereka. Suaminya belakangan mengutarakan niatnya bepergian dengan kuda dari Buenos Aires sampai New York. Demi menghidupi diri dan kedua putri mereka — Samantha dan Justine — Anita mengambil pinjaman lunak. Dengan utang itulah ia membuka toko The Body Shop pertamanya. Toko kecil, hanya menjual sekitar 15 produk-produk perawatan tubuh dan rambut.
Rupanya, usahanya terus tumbuh, terutama setelah Roddick membantunya sepulang dari perjalanannya. “Dia yang melakukan, saya yang mengimpikan,” katanya. Dalam 15 tahun, toko-toko The Body Shop menyebar di dan ke luar Inggris. Anita, yang menolak pemasaran konvensional, sangat terkenal dengan rambutnya yang awut-awutan, dan kata-katanya bukan tipe gaya pengusaha. Tapi, justru dengan itu, ia sendirilah iklan terbaik buat The Body Shop. Ia menggunakan toko-tokonya untuk menyebarkan filosofi dan mendukung perjuangannya, mendesak pemilik waralaba serta konsumennya untuk ikut.
Pada 1990, ia membantu pendirian majalah The Big Issue, yang diproduksi dan dijual oleh kaum tunawisma. Ia juga mendirikan Children on the Edge, lembaga amal untuk anak-anak di Eropa dan Asia, dan mengamalkan sebagian besar kekayaannya.
The Body Shop menjadi perusahaan publik pada pertengahan 1990-an. Pada 1993, Anita menjadi salah satu dari lima perempuan terkaya di Inggris. Meski ia dan suaminya turun dari jabatan manajerial di perusahaan itu pada 2002, mereka tetap menjadi direktur noneksekutif dan menerima pendapatan sekitar US$ 237 juta (Rp. 2,1 trilyun) dari 18 persen saham mereka.
The Body Shop belakangan dijual ke raksasa kosmetik Prancis, L’Oreal, dengan harga sekitar US$ 1,14 milyar Maret 2006. Dikabarkan, uang 130 juta poundsterling (Rp. 2,41 trilyun) mengalir ke pundi harta Anita dan Gordon Roddick dari penjualan itu, yang memicu kritik dari kalangan pecinta lingkungan hidup. Pasalnya, L’Oreal diduga masih menghalalkan ujicoba dengan binatang. Padahal, praktik itu melanggar salah satu nilai dasar yang dipegang teguh The Body Shop.
L’Oreal sendiri menyatakan perusahaan itu tidak lagi mengujicoba binatang sejak 1989. Namun, boikot terjadi di seluruh dunia, dari pelanggan maupun pengecer, terutama di Inggris, negara tempat markas The Body Shop.
Anita memberi alasan bahwa ia berharap The Body Shop akan memengaruhi L’Oreal agar berperilaku etis. Dalam satu wawancara dengan harian The Guardian, ia menjelaskan, dengan menjual bisnisnya itu, dirinya menjadi “semacam kuda troya” demi memengaruhi perusahaan besar seperti L’Oreal. “Para pemasok yang dulu bekerja dengan The Body Shop akan punya kontrak dengan L’Oreal, dan bekerjasama dengan perusahaan itu 25 hari dalam setahun, dan akan mewujudkan masukan menjadi keputusan-keputusan.”
Terlepas dari kontroversi itu, perjuangan Anita sebagai aktivis pecinta lingkungan hidup mendapat pengakuan dari banyak pihak. Salah satunya adalah penghargaan lingkungan hidup PBB “Global 500.” Sederet penghargaan lain ia terima sebelumnya, seperti London’s Business Woman of the Year 1985, Order of the British Empire, Communicator of the Year, Retailer of the Year (ketiganya pada 1988). Pada 2003, Ratu Elizabeth II memberinya gelar kebangsawanan Dame of British Empire (DBE).
Di Konferensi Hak Asasi Manusia PBB pada 1993, Anita bertemu dengan delegasi masyarakat suku Ogoni dari Nigeria. Mereka mencari keadilan dan ganti rugi dari perusahaan raksasa Shell yang melumatkan tanah mereka melalui eksplorasi minyak. Bekerjasama dengan sejumlah NGO, The Body Shop berjuang, dan empat tahun kemudian Shell merevisi cara mengelola bisnisnya, dan berkomitmen pada hak asasi manusia dan pembangunan berkesinambungan. Tragisnya, Ken Saro-Wiwa (juru bicara utama Ogoni) dan delapan rekannya, dieksekusi pada 1995 oleh pemerintah Nigeria. Anita juga bergabung dengan para pemrotes di garis depan saat berlangsung perundingan Organisasi Perdagangan Dunia di Seattle pada 1999.
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, saat memberikan penghormatan dalam upacara pemakaman Anita, menyebut Anita sebagai salah satu pelopor sejati di Inggris, dan inspirasi bagi para perempuan pengusaha. “Dia mengampanyekan isu-isu hijau selama bertahun-tahun sebelum isu itu akhirnya menjadi hal yang pantas dilakukan, serta mengilhami jutaan orang untuk menghadirkan ke pasar produk-produk yang ramah pada alam.”
Tony Juniper, direktur lembaga swadaya masyarakat Friends of the Earth, mengatakan Anita melakukan lebih dari sekadar bisnis beretika yang sukses. “Dia adalah pelopor seluruh konsep tentang konsumerisme etis dan hijau,” tulis Juniper di harian Evening Standard.
Selain menjadi aktivis prolingkungan hidup, Anita juga gigih berkampanye untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan Hepatitis C, virus yang ia derita akibat transfusi darah saat melahirkan putri keduanya. Ia tak menyadari hidup dengan “pembunuh diam” itu selama tiga dekade, dan baru mengetahuinya pada 2005 setelah tes darah.
Penyakit pengerat hatinya itu membuat Anita semakin menghargai arti hidup. “Apa yang bisa saya katakan adalah bahwa dengan terkena Hepatitis C berarti saya hidup dengan perasaan tajam mengenai kematian saya sendiri, yang dalam banyak hal membuat hidup lebih bersemangat dan dekat,” katanya.
Bisa dibilang, ada perpaduan yang langka pada diri Anita: seorang pengusaha sukses dan aktivis prolingkungan hidup yang disegani. Salah satu keganjilan yang ditampilkannya adalah kegemaran mencemooh produk-produk yang dijual perusahaannya sendiri. Mau tahu alasannya? “Saya tidak pernah merasa produk-produk kecantikan adalah tubuh dan darah Yesus Kristus. Tak ada yang dijual The Body Shop yang berpretensi melakukan apa pun selain yang dikatakannya. Pelembut melembutkan, penyegar menyegarkan, dan pembersih membersihkan.”
Lalu, apa rahasia sukses bisnisnya? “Disfungsi adalah esensi dari kewirausahaan,” katanya. Ia bercerita bahwa ia puluhan kali diminta berbicara di berbagai tempat seperti Harvard dan Yale tentang kewirausahaan. Permintaan itu membuatnya tertawa. Menurut dia, orang-orang sangat ingin belajar bagaimana menjadi wirausahawan, sementara dia sendiri tidak yakin ini masalah yang bisa diajarkan. “Maksud saya, bagaimana Anda mengajarkan obsesi? Karena, obsesilah yang mendorong komitmen wirausahawan ke visi akan sesuatu yang baru.”
Menurut Anita, wirausahawan adalah kaum penyendiri, pengembara, pembuat masalah. “Secara sederhana, sukses adalah masalah mencari, dan mengelilingi diri kita dengan jiwa-jiwa yang terbuka dan pintar, yang bisa mengambil kegilaan kita dan menjadikannya bermanfaat.” Dan, satu lagi, The Body Shop membuat Anita merasa bisa mendedikasikan bisnis untuk mengupayakan perubahan sosial dan lingkungan.
Begitulah, Anita nyentrik dan sukses.*esq